UNTUK AYAH
November 19th, 2008 by davecool182Suatu ketika, ada seorang anak bertanya kepada
Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya
sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut dengan
badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batukbatuknya.
Anak itu bertanya pada ayahnya: Ayah, mengapa
wajah Ayah kian berkerut dengan badan Ayah yang kian hari
kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya
sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab : “Sebab aku
Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak itu berguman : ” Aku
tidak mengerti.”
Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya
hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya
mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya,
membuat anak itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak itu menghampiri Ibunya lalu bertanya : “Ibu mengapa wajah ayah
menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi
demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?” Ibunya menjawab: “Anakku, jika seorang Laki-laki
yangbenar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu
jawaban Sang Bunda.
suatu malam, anak itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat
lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian
kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang
penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar
keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. “
“Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh
keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. ”
“Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan
keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia
mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. ”
“Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi
keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan
badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga
perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti
kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha
merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan
hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. ”
“Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi
keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai
perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan
rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang
memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak anaknya agar selalu saling
menyayangi & mengasihi sesama saudara.”
“Kuberikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk
memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap
Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi
perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji
setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi
serta saling menyayangi.”
“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat
daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga
bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang
bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga
serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. ”
“Kuberikan kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagaitTiang
penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang
dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat.”
Terbangun anak itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia
hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak itu merengkuh dan mencium
telapak tangan Ayanya. ” AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”
untuk semua Ayah…